Hosting Unlimited Indonesia

Info Kesehatan

Diet

Kolesterol

Latest Updates

Showing posts with label Bahaya. Show all posts
Showing posts with label Bahaya. Show all posts

Makanan Anda Mengandung Formalin atau Tidak? Begini Cara Ngetesnya

21:51:00
    Jakarta, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) terus mengingatkan masyarakat agar berhati-hati mengkonsumsi makanan olahan. Sebab masih banyak ditemukan makanan olahan yang mengandung bahan berbahaya di pasar-pasar tradisional. Untuk itu, BPOM mengajarkan langkah praktis menguji makanan yang tidak sehat tersebut. Caranya adalah dengan menggunakan alat uji yang disebut Test Kit Boraks, Test Kit Formalin, Test Kit Methanil Yellow, dan Test Kit Rhodamin B. "Test kit ini bisa dibeli di koperasi dan toko kimia kami," ujar staf sertifikasi dan layanan informasi konsumen BPOM, Ratna Dewi Napitupulu, dalam talkshow bertajuk '5 Kunci Keamanan Pangan' di Gedung BPOM, Jl Percetakan Negara, Jakarta Pusat, Rabu (25/9/2013). Menurut Dewi, test kit tersebut dijual dengan kisaran harga Rp 200 ribu. 

          Test kit ini dapat digunakan 40 hingga 50 kali. Tim penguji dari Balai Besar POM Jakarta melakukan uji terhadap 3 sampel makanan. Yaitu mi kuning, kerupuk dan tahu. Yang pertama adalah tes uji formalin yang terkandung dalam mi kuning. Mula-mula mi tersebut dihancurkan dan dilarutkan dengan air. Air yang digunakan adalah air putih, boleh air masak maupun air mentah. Kemudian, sebanyak 1 mili liter ekstrak mi ini dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Ekstrak ini dicampur dengan pereaksi cair khusus formalin sebanyak lima tetes dan pereaksi bubuk sebanyak satu sendok kecil. "Tabung ini dikocok-kocok, tunggu selama 5-10 menit. Kalau positif mengandung formalin, hasilnya akan berwarna keunguan," kata Dewi. Uji coba yang kedua adalah tes pewarna makanan berbahaya, Rhodamin B. Kali ini yang menjadi bahan uji adalah kerupuk harum manis. Seperti uji sebelumya, kerupuk tersebut dilarutkan dengan air, lalu larutkan sebanyak 1 mili liter dituang ke dalam tabung reaksi. Namun untuk uji rhodamin B ini pereaksinya sebanyak 3 jenis.

       Pereaksi pertama sebanyak 10-20 tetes, pereaksi kedua lima tetes, dan pereaksi ketiga sebanyak 10-20 tetes. "Dibiarkan 5-10 menit. Kalau mengandung rhodamin B, akan terbentuk semacam cincin berwarna merah muda di permukaan larutan," kata dia. Untuk uji yang terakhir adalah ada tidaknya kandungan boraks di dalam tahu. Tidak berbeda dengan uji sebelumnya, tahu dilarutkan ke dalam air, lalu larutannya dituang ke dalam uji tabung reaksi. Kemudian larutan tersebut diberi pereaksi, dicampur, dan diuji dengan kertas lakmus. Apabila positif mengandung boraks, kertas lakmus yang berwarna kuning tersebut akan berubah warna menjadi biru tua. 

Sumber : health.detik.com

Ketika Cacing Bersarang di Tubuh Manusia

21:41:00


     
 Jakarta, Beberapa orang merasa geli saat melihat cacing yang melata di tanah atau lantai kamar mandi. Lalu bagaimana bila cacing-cacing justru menjadikan tubuh manusia sebagai rumahnya? Cacing dari manusia yang satu bisa menyebar ke manusia yang lain melalui larva atau telurnya.

Larva ini masuk ke tubuh manusia melalui makanan, pijakan kaki, maupun angin yang terhirup di saluran napas. "Cacing yang di dalam tubuh bertelur dan dikeluarkan bersama dengan tinja, lalu tinja dikeluarkan misalnya buang air tidak di jamban, ya itu bisa menular telurnya.

Misalnya saja di daerah pertanian, banyak tanah maka dengan mudah telur ini tadi berkembang jadi larva lalu ditularkan," jelas Kepala bagian Parasitologi FK UGM, Prof. dr. Supargiyono, DTM&H., SU., Sp.Par(K) dalam perbincangan dengan detikHealth, Rabu (25/9/2013). Berbeda dengan bakteri, di mana ada bakteri yang bermanfaat bagi tubuh, semua cacing di tubuh manusia berbahaya. Cacing di tubuh manusia bersifat parasit sehingga pasti akan menggerogoti tubuh inang yang ditempelinya. 

"Cacing mengambil makanan dari tubuh kita, makanya merugikan. Tidak seperti bakteri, masih ada yang bisa bermanfaat bagi tubuh," sambung Prof Supargiyono. Nah telur cacing yang keluar dari tubuh manusia, misalnya melalui tinja, tidak bisa dilihat. Dibutuhkan mikroskop untuk melihat penampakan cacing tersebut.

 "Tapi kalau cacingnya misalnya kremi yang di dubur, itu bisa dilihat. Apalagi kalau cacing gelang bentuknya bulat, warna putih itu bisa dilihat, jelas sekali kadang panjanganya ada yang sampai beberapa meter," papar Prof Supargiyono. Nah, seberapa berbahaya cacing-cacing dalam tubuh manusia? Lalu cacing jenis apa saja yang bisa 'membangun rumah' di tubuh manusia? Simak ulasan khas detikHealth bertajuk 'Cacing di Tubuh Manusia' pada Rabu ini. Selamat membaca.

Sumber : health.detik.com
 
Copyright © INFO KESEHATAN. Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Templates